Senin, 30 November 2009

Bisnis Pakaian Merek Lokal Makin Menjanjikan



Dari Toko Distro sampai Bus

Bisnis pakaian lokal sampai sekarang makin menjanjikan. Terbukti sejumlah perusahaan (umumnya berbentuk CV) dari Bandung kini justru kerap didatangi bank-bank untuk menawarkan kredit ratusan juta kepada mereka. Padahal bisnis pakaian lokal yang kini kerap disebut distro (distributor store) sudah sepuluh tahun lebih berjalan.

“Dulu diprediksi hanya sepuluh tahun tren local clothing. Tapi nyatanya sampai sekarang masih hidup dan terus bertumbuh,” kata Achmad Soni Saepudin, pemilik local clothing dengan merek Blankwear, saat ditemui di arena pameran distro di Departemen Perindustrian, Jalan Gatot Subroto, Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis (29/10).

Soni, lulusan D-3 Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran, mengatakan bahwa pihaknya sudah memiliki dua toko yang khusus menjual produk merek Blankwear di Jalan Sultan Agung, Dago, Bandung Tengah dan Jalan AH Nasution, Bandung Timur. Selain memiliki dua toko, Soni juga mempunyai langganan 200 distro yang tersebar di seluruh Indonesia.

Menurut Soni, distro sebenarnya mengacu pada tempat dan umumnya berupa toko yang memajang berbagai merek pakaian lokal. Pemilik distro mengambil barang dari pengusaha pakaian lokal maupun perajin pakaian yang memproduksi pakaian pesanan (biasa disebut vendor). Namun, pengusaha pakaian lokal pun banyak dipasok barangnya dari para vendor ini.

Kapasitas produksi Blankwear kini mencapai 20.000 pakaian per bulan. Soni merintis pakaian lokal sejak tahun 1999 saat ia masih kuliah. Berawal dari pesanan jaket, ia merintis usaha ini dengan modal dua mesin jahit dan sekarang jumlahnya sudah mencapai 30 unit mesin. Tenaga yang dikelolanya sebanyak 60 karyawan. Omzet setahun mencapai Rp 20 miliar.

Hasilnya, Soni kini mampu membeli delapan rumah di Bandung, termasuk mobil untuk keluarga, yakni Toyota Alphard. “Sebagian besar local clothing bermodalkan dengkul. Banyak juga anak dari punk yang kini sudah naik Mercy,” ujar Soni (28).

Kekuatan konsep

Soni mengaku salah satu kunci menjalankan usaha pakaian lokal adalah pada kekuatan konsep dan mengikuti perkembangan tren pakaian, terutama dari Jepang. “Biasanya tiga atau enam bulan tren di Jepang, baru di sini kita produksi,” katanya.

Blackwear mengusung konsep street wear. Produk pakaian lokal lain, yakni merek Airplane Systm dan Ralij (satu pemilik), adalah konsep pakaian untuk anak muda muslim (relijius). Umumnya, acuan konsep mereka adalah dari dunia musik dan olah raga.

Satu satu ciri dari pakaian lokal ini, adalah edisi terbatas. Satu desain pakaian biasanya diproduksi sekitar 300 unit saja. Keunggulan lain adalah harganya yang murah dan kekuatan jaringan, terutama pada komunitas, seperti komunitas pengendara sepeda motor, skateboard, band, dan sebagainya.

Soal kreatvitas, Airplane Systm milik Tb Fiki Cikara Satari (dosen Fakultas Teknik Universitas Pasundan) adalah menggunakan bus untuk toko bergerak. “Bus Airplane Systm ini untuk menjawab tantangan di Jalan Sultan Agung yang sudah penuh toko dan distro,” kata Ando, Brand Manager Airplane Systm.

Promosi pun gencar dilakukan, seperti Airplane Systm yang bekerja sama dengan majalah dan radio. Bus Airplane Systm juga bergerak ke mana saja sampai ke Bali untuk berbagai event, mulai dari pameran sampai pementasan musik, selain biasa mangkal di Jalan Sultan Agung, Bandung. Selain media internet, banyak juga pengusaha pakaian lokal ini bekerja sama dengan stasiun televisi untuk menyediakan kostum acara-acara televisi.

Selama ini para pengusaha pakaian lokal ini tergabung dalam organisasi KICK (Kreative Independent Clothing Kommunity) yang berdiri sejak 2006. Di Bandung ada 28 pengusaha pakaian lokal, empat di Yogyakarta, dan 10 di Jakarta. (Mirmo Saptono)

Sumber : Wartakota

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar