Sabtu, 14 November 2009

Pentingnya Memahami Daya Juang


Berkompetisi punya makna merebut dan bertahan. Kalau hanya berdiam diri jalan di tempat akan menghabiskan sumber daya. Pihak yang menyerang dan yang diserang harus melakukan ‘move’ bergerak dalam rangka menyerang atau melakukan penataan pertahanan.Untuk menyerang dan bertahan diperlukan daya juang dan daya tahan. Tanpa daya juang dan daya tahan, maka kompetisi akan cepat usai dan tidak seru.

Beberapa hari lalu saya membawakan in company training bagi salah satu perusahaan tentang bagaimana memenangkan kompetisi bisnis bekerjasama dengan salah satu pusat pendidikan para komando.

Para peserta mendapat pengalaman unik yang penuh makna ketika salah seorang pelatih pasukan para komando memeragakan bagaimana bertahan hidup dalam situasi darurat di tengah gunung. Pada sesi tentang survival ini, pelatih mencontohkan bagaimana memanfaatkan tanaman dan binatang hutan.

Arben (bukan arrbey) yang biasanya disukai burung bisa menjadi salah satu alternatif makanan darurat karena rasanya yang manis. Pisang hutan, poh-pohan, sintrong, pinding atau pakis hutan yang rasanya pahit atau sepet juga bisa menjadi alternatif darurat. Bahkan, ular kobra juga bisa menjadi alternatif kalau sampai kepepet. Daripada ‘habis waktu’ karena tidak makan berhari-hari, lebih baik kita makan apa saja agar bertahan dan tetap hidup.

Bagaimana kalau situasi lagi enak dan perusahaan sedang makmur? Apakah daya juang masih diperlukan? Apakah ilmu daya juang hanya berlaku untuk perusahaan baru atau yang lagi menderita? Tentu saja tidak. Perusahaan yang lagi ‘enak’ atau susah perlu daya juang.

Pada kompetisi bisnis masa kini, kunci sukses pemasaran memang tidak sekadar memahami konsumen dan memuaskannya. Tidak hanya perusahaan perlu memberikan banyak manfaat bagi konsumen. Tidak hanya perusahaan atau produk perlu melakukan ‘tebar pesona’ agar citra positifnya dipahami konsumen. Tidak cukup perusahaan perlu memahami peta kompetisi dan menentukan kompetitor targetnya.

Perusahaan juga harus punya daya juang untuk bertahan menghadapi gempuran penantangnya dan daya juang untuk menggempur pemimpin pasar atau penantang lainnya.

Esensi daya juang

Bagi perusahaan, daya juang harus terus digelorakan bagi segenap personil perusahaan terutama untuk maksud sebagai berikut:

1. Kewaspadaan

Kompetitor bisa tiba-tiba muncul dan hilang dalam waktu singkat. Lingkungan bisnis juga bisa berubah cepat seperti datangnya kilat. Perusahaan dan personelnya perlu terus membangun kewaspadaan dengan terus menggelorakan daya juang pada situasi darurat.

2. Memotivasi

Memompa daya juang dengan menyiapkan diri menghadapi situasi darurat akan memotivasi personel perusahaan untuk berbuat yang terbaik agar perusahaannya tidak sampai menghadapi situasi darurat. Sekaligus juga memberi dorongan daya juang karena akan timbul kesadaran mensyukuri situasi ‘normal’ yang sedang dialami.

3. Kebersamaan

Berlatih menghadapi keadaan ‘darurat perang’ juga akan memacu daya juang melalui pengembangan perasaan ’senasib sepenanggungan’. Kalau perusahaan lagi ‘enak’, sikap individualistis biasanya mengemuka. Semua orang ingin tampil sebagai ‘pahlawan’. Pada situasi seperti itu, membangun daya juang melalui kebersamaan menjadi kebutuhan mutlak. Perusahaan harus hidup karena individu yang hebat dan tim kerja yang kompak.

4. Panjang umur

Lahir, tumbuh, dewasa, dan mati merupakan siklus hidup yang juga berlaku untuk perusahaan. Namun, perusahaan bisa cepat ‘koit’ dan sampai ke tahap akhir siklus hidupnya kalau tidak ada daya juang personelnya. Bagi perusahaan baru atau kecil, daya juang malah menjadi modal paling penting. Membangun daya juang dan berlatih menghadapi keadaan darurat akan membuat perusahaan tahan lebih lama dan berumur panjang.

5. Penyubur ide

Meningkatkan daya juang juga akan memberi inspirasi bagi perusahaan dan personelnya tentang bagaimana bertahan hidup agar tidak cepat mati dan akan memberi inspirasi pada tumbuhnya ide-ide bisnis baru.

6. Siap susah

Terkadang roda kehidupan lagi ‘di atas’ dan terkadang ‘di bawah’. Segenap personel perusahaan perlu menyiapkan diri kalau perusahaan lagi susah. Dengan terus menyiapkan diri kalau ’susah’ datang, maka semua pihak di perusahaan secara bersama-sama akan menghindarkan diri dari hidup susah dan mudah-mudahan perusahaan tidak pernah hidup susah. Seandainya pun ’susah’ datang tidak akan menimbulkan kesusahan berkepanjangan.

Daya juang juga berlaku bagi pihak yang diserang dan lagi bertahan. Bisa jadi yang diserang adalah market leader, tetapi bisa juga market chalener atau bahkan pemain baru yang sedang coba-coba masuk pasar.

Daya juang juga berlaku bagi pihak yang menyerang. Dalam kompetisi bisnis zaman sekarang, perusahaan harus punya semangat yang tinggi untuk menang. Peluang pasar terbuka lebar, sedangkan kompetitor juga makin banyak dan berkualitas. Tanpa daya juang tinggi, perusahaan akan gamang dan tidak punya pushing power. Perusahaan harus punya keberanian, semangat, dan tekad untuk terus maju dan berkembang.

Tidak ada gunanya peta segmentasi pasar yang sampai njelimet menemukan niche market kalau tidak ada daya juang untuk merebut dan menggempur kompetitor sekaligus merebut pasar. Percuma saja membuat produk hebat dengan beragam manfaat kalau tidak di-jegurin dan dibawa bertempur.

Ada pemasar yang terkadang lupa dan mengatakan bahwa produknya ‘payah’ dan kalah bertempur. Sesungguhnya yang bertempur bukan produk karena hanya sebagai alat. Pertempuran pemasaran bukan pertempuran antarproduk, tetapi pertempuran antarpemasar itu sendiri. Jadi, kalau sampai kalah, sesungguhnya yang kalah bukan produknya, tetapi pemasar itu sendiri.

Maka itu, pemasar harus berani bertempur dengan membawa produknya. Jangan sampai produknya diminta bertempur sendirian dan hanya di-gerojok dana promosi berlimpah. Bukan itu esensi perang pemasaran.

Esensi kompetisi bisnis adalah daya juang dari pemasar dan segenap personel lain di perusahaan untuk berani menyerang dan bertahan. Berhasil atau tidaknya perusahaan memasarkan dan memenangkan kompetisi bisnis sangat tergantung pada daya juang personelnya.

oleh :
Handito Hadi Joewono
CPM Asia Pacific
Managing Partner Arrbey Indonesia

diambil dari : www.bisnis.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar